Prinsip kerja MRI (Magnetic resonance imaging )

Apa itu MRI?
Prinsip kerja MRI
Gambar MRI (sumber:4rai.com)

Magnetic resonance imaging (MRI) atau dapat diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi pencitraan resonansi magnetik adalah pemeriksaan yang memanfaatkan medan magnet dan energi gelombang radio untuk menampilkan gambar struktur dan organ dalam tubuh.  Magnetic resonance imaging  pada awalnya biasa disebut dengan nuclear magnetic resonance imaging (NMRI). Penghilangan kata nuklir dilakukan agar tidak menimbulkan kekhawatiran karena nuklir sering dikonotasikan dengan hal yang negatif.
MRI dapat menghasilkan gambaran struktur tubuh yang tidak bisa didapatkan dengan tes lain, seperti Rontgen,USG, atau CT scan. Kecanggihan teknologi ini dapat digunakan untuk melihat sendi, tulang rawan, ligamen, otot dan tendon di dalam tubuh, sehingga membantu mendeteksi berbagai macam cedera. Pemeriksaan MRI juga digunakan untuk memeriksa struktur tubuh internal dan mendiagnosis berbagai gangguan. Seperti stroke, tumor, aneurisma, cedera tulang belakang, multiple sclerosis dan masalah telinga, mata atau bagian dalam lainnya. Selain itu, MRI juga banyak digunakan dalam penelitian tentang struktur dan fungsi otak.
Karena Proses Pemindaian dilakukan menggunakan medan magnet dan gelombang radio yang kuat tanpa pemaparan dengan sinar radioaktif maka MRI aman untuk melihat gambar janin selama kehamilan dan tidak ada efek samping pada janin.

Proses Pemindaian Dengan MRI
Mesin MRI berbentuk lingkaran dengan lubang ditengahnya, bentuknya seperti donat. Pasien yang akan diperiksa berbaring di tempat tidur yang dapat digerakkan keluar masuk lubang tengah Mesin MRI.
Mesin MRI akan mengeluarkan bunyi yang keras pada saat proses pemeriksaan. Biasanya pasien akan diminta untuk mengenakan penyumbat telinga atau headphone dengan musik dapat membantu meredam suara. Meskipun demikian, pasien tidak perlu khawatir karena medan magnetik dan gelombang radio yang dihasilkan oleh mesin MRI tidak dirasakan oleh pasien. Jadi pasien tidak akan merasa kesakitan selama proses pemindaian. Lama proses selama pemindaian MRI tergantung area tubuh yang diperiksa dan seberapa banyak gambar yang dibutuhkan. Terlepas dari keamanan dari MRI, kita tetap harus mengikuti intruksi dari petugas untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Bagaimana Cara Kerja MRI?
MRI memanfaatkan sifat inti hidrogen (proton) yang terdapat di dalam tubuh. Atom hidrogen sangat banyak terdapat dalam tubuh karena tubuh kita sebagian besarnya adalah air.  Inti-inti hidrogen berputar ke arah yang macam-macam. Saat berada dalam medan magnet yang dihasilkan oleh mesin MRI, arah putaran inti-inti hidrogen menjadi selaras. Sebagian inti hidrogen akan searah dengan arah medan magnet, dan sebagiannya lagi berlawanan arah dengan arah medan magnet. Jumlah keduanya hampir sama. Terdapat sedikit perbedaan jumlah keduanya, hanya selish beberapa proton setiap satu juta proton. Mungkin persentasenya sekilas terdengar sedikit, akan tetapi jumlah tersebut sudah mencukupi karena jumlah proton dalam tubuh sangatlah banyak. Inti-inti hidrogen yang “tidak saling menetralkan atau tidak berpasangan” inilah yang digunakan untuk membuat pencitraan tubuh kita.

Proses yang terjadi selanjunya adalah mesin MRI mengenakan gelombang radio tertentu ke bagian tubuh yang diperiksa. Energi dari gelombang radio akan diserap oleh inti-inti hidrogen yang “tidak berpasangan” sehingga arah putarannya berubah. Bagian inilah yang disebut dengan “resonansi” pada MRI. Ketika denyutan/pulsa gelombang radio dimatikan, proton-proton hidrogen hidrogen perlahan kembali ke keadaan awalnya sambil melepas energi yang diserap dari pulsa gelombang radio. Mesin MRI memiliki semacam kumparan penerima yang menerima gelombang energi yang dikeluarkan oleh proton tersebut. Selanjutnya sinyal-sinyal yand diterima diterjemahkan oleh komputer menjadi sebuah gambar.
Gambar hasil MRI (sumber:www.valleyradiologync.com)
Jangan lupa like, comment, and share ya jika bermanfaat!

Previous
Next Post »