Perbedaan Larutan Elektrolit dan Non elektrolit


A. Larutan Elektrolit dan Non elektrolit

Menurut Svante August Arrhenius, zat elektrolit dalam larutannya akan terurai menjadi partikel-partikel yang berupa atom atau gugus atom yang bermuatan listrik yang dinamakan ion. Ion yang bermuatan positif disebut kation, dan ion yang bermuatan negatif dinamakan anion. Peristiwa terurainya suatu elektrolit menjadi ion-ionnya disebut proses ionisasi. Ion-ion zat elektrolit tersebut selalu bergerak bebas dan ion-ion inilah yang sebenarnya menghantarkan arus listrik melalui larutannya. Sedangkan zat nonelektrolit ketika dilarutkan dalam air tidak terurai menjadi ion-ion, tetapi tetap dalam bentuk molekul yang tidak bermuatan listrik. Hal inilah yang menyebabkan larutan nonelektrolit tidak dapat menghantarkan listrik.

Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan:
1. Larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik karena zat elektrolit dalam larutannya terurai menjadi ion-ion bermuatan listrik dan ion-ion tersebut selalu bergerak bebas.


Contoh larutan elektrolit
Larutan NaCl (diapharma.com)

Contoh: larutan asam sulfat, natrium hidroksida, garam dapur, asam cuka, dan amonium hidroksida.

Perbedaan larutan elektrolit dan non elektrolit

2. Larutan nonelektrolit tidak dapat menghantarkan arus listrik karena zat nonelektrolit dalam larutannya tidak terurai menjadi ion-ion, tetapi tetap dalam bentuk molekul yang tidak bermuatan listrik.
Contoh: larutan gula dan larutan urea.
Contoh larutan non elektrolit
larutan gula (www.remediesandherbs.com)

B.  Senyawa Ionik dan Senyawa Kovalen Polar

Senyawa ionik dan kovalen polar biasanya bersifat elektrolit. larutan H2SO4, NaOH, CH3COOH, NH4OH, dan NaCl termasuk larutan elektrolit. Padahal telah diketahui bahwa NaCl adalah senyawa yang berikatan ion (senyawa ionik), sedangkan HCl, H2SO4, CH3COOH, dan NH4OH adalah kelompok senyawa yang berikatan kovalen (senyawa kovalen). Senyawa kovalen yang dapat menghantarkan listrik disebut senyawa kovalen polar. Jadi, dapat disimpulkan bahwa larutan elektrolit ditinjau dari jenis ikatan kimia senyawanya dapat berupa senyawa ion dan senyawa kovalen polar. Senyawa kovalen nonpolar biasanya nonelektrolit.

C. Elektrolit Kuat dan Elektrolit Lemah

Berdasarkan kuat-lemahnya daya hantar listrik, larutan elektrolit dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
a. Larutan elektrolit kuat, yaitu larutan elektrolit yang mengalami ionisasi sempurna.
Indikator pengamatan: lampu menyala terang dan timbul gelembung gas
pada elektrode.
Contoh: larutan H2SO4, larutan NaOH, dan larutan NaCl.

b. Larutan elektrolit lemah, yaitu larutan elektrolit yang mengalami sedikit ionisasi (terion tidak sempurna). Indikator pengamatan: lampu tidak menyala atau menyala redup dan timbul
gelembung gas pada elektrode.
Contoh: larutan CH3COOH dan larutan NH4OH.
Berdasarkan kuat lemahnya daya hantar listrik, elektrolit dibagi dua yaitu elektrolit kuat dan elektrolit lemah. Suatu zat yang mempunyai daya hantar listrik kuat termasuk elektrolit kuat, dan zat yang daya hantar listriknya lemah termasuk elektrolit lemah. Larutan elektrolit kuat contohnya asam kuat (HCl, HBr, HI, H2SO4, HNO3), basa kuat (NaOH, KOH, LiOH, Ca(OH)2, Ba(OH)2), dan garam (NaCl, KCl, CaCl2, BaBr2, CaSO4, dan lain-lain). Larutan-larutan ini terionisasi sempurna dalam air (α = 1), sehingga semua molekul terdisosiasi dan tidak ada molekul tersisa dalam larutan.

Berbeda dengan larutan elektrolit lemah yang terionisasi  sebagian (0 < α < 1), dalam larutan sebagian berbentuk ionion sebagian lagi masih dalam bentuk molekul. Contoh dalam cuka mengandung asam asetat (CH3COOH) yang terionisasi sebagian:
CH3COOH(aq) <-> CH3COO–(aq) + H+(aq)
Awalnya sejumlah molekul CH3COOH terurai menjadi ion-ion CH3COO– dan H+. Seiring berjalannya waktu beberapa ion CH3COO– dan H+ bergabung kembali membentuk molekul CH3COOH. Contoh elektrolit lemah adalah asam lemah (CH3COOH, H3PO4, HCOOH, HCN, HF, H2S, dan lainlain) dan basa lemah (NH4OH, Fe(OH)3, Al(OH)3, dan lainlain).

Larutan nonelektrolit tidak dapat terionisasi (α = 0), sehingga tidak ada ion dalam larutan tetapi semua dalam bentuk molekul. Contoh larutan nonelektrolit adalah larutan urea dan larutan glukosa. Secara kuantitatif, kuat lemahnya larutan elektrolit dapat diukur dari α = derajat disosiasi (untuk senyawa ion)/derajat ionisasi (untuk senyawa kovalen polar).

D.Reaksi Ionisasi Larutan Elektrolit


Molekul air bermuatan netral tetapi mempunyai ujung positif (atom H) dan ujung negatif (ujung O) sehingga sangat efektif melarutkan senyawa ionik atau senyawa kovalen polar. Molekul-molekul air menstabilkan ion-ion dalam larutan dengan mengelilingi ion-ion tersebut, sehingga kation tidak bergabung kembali dengan anion. Proses di mana sebuah ion dikelilingi oleh molekul-molekul air yang tersusun dalam keadaan tertentu disebut hidrasi. Contoh padatan NaCl akan terionisasi menghasilkan Na+ dan Cl– saat dilarutkan dalam air. Ion Na+ akan tertarik ke elektrode negatif dan ion Cl– tertarik ke elektrode positif sehingga menghasilkan arus listrik yang arahnya berlawanan dengan arah arus elektron.

Bagaimana cara menuliskan reaksi ionisasi larutan elektrolit?
Berikut ini cara menuliskan reaksi ionisasi:
1. Elektrolit Kuat
a. Asam kuat
HxZ (aq) ⎯⎯→ x H+(aq) + Zx(aq)
Contoh:
HCl(aq) ⎯⎯→ H+(aq) + Cl(aq)

b. Basa kuat
M(OH)x(aq) ⎯⎯→ Mx+(aq) + x OH–(aq)
Contoh:
NaOH(aq) ⎯⎯→ Na+(aq) + OH(aq)

c. Garam
MxZy(aq) ⎯⎯→ x My+(aq) + y Zx(aq)
Contoh: •
NaCl(aq) ⎯⎯→ Na+(aq) + Cl(aq)

2. Elektrolit Lemah
a. Asam lemah
HxZ(aq) ⎯→ x H+(aq) + Zx(aq)
Contoh:
CH3COOH(aq) ⎯→ H+(aq) + CH3COO(aq)

b. Basa lemah
M(OH)x(aq) ⎯→ Mx+(aq) + x OH(aq)
Contoh:
NH4OH(aq) ⎯→ NH4+(aq) + OH(aq)


Previous
Next Post »